Sabtu, 22 Mei 2010

Kepercayaan Perbankan Masih Rendah Terhadap Pengusaha Perempuan

When you're learning about something new, it's easy to feel overwhelmed by the sheer amount of relevant information available. This informative article should help you focus on the central points.
Jakarta (ANTARA) - Peluang perempuan pengusaha untuk mengembangkan bisnis secara maksimal terkendala kepercayaan pihak perbankan yang masih rendah serta kurangnya kepercayaan untuk menyalurkan permodalan, kata Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Nita Yudi.

Budaya patriakal di kalangan masyarakat ikut menjadi penyumbang ketidakpercayaan lembaga keuangan terhadap perempuan yang ingin mendapatkan pinjaman modal, katanya dalam bincang-bincang dengan wartawan di Jakarta, Sabtu.

"Budaya bahwa lelaki harus memiliki bagian lebih besar dari perempuan masih banyak terjadi. Misalnya berdasarkan adat, seorang lelaki dalam warisan mendapat lebih besar dari perempuan sehingga perempuan jarang yang memiliki modal besar," kata Nita.

Hal itu diperparah dengan lembaga keuangan yang menuntut adanya jaminan sejumlah barang atau uang tertentu untuk mendapatkan pinjaman modal.

"Bagaimana perempuan usahanya mau maju kalau belum apa-apa sudah minta jaminan. Karena sebenarnya yang punya modal itu laki-laki," katanya.

If your news facts are out-of-date, how will that affect your actions and decisions? Make certain you don't let important news information slip by you.

Nita Yudi juga mengeluhkan adanya iming-iming dari lembaga keuangan yang menyebutkan pinjaman modal kurang dari Rp5 juta tidak menggunakan agunan. Padahal kenyataannya tidak ada yang benar-benar melaksanakan pinjaman tanpa modal.

Hal itu banyak dirasakan perempuan pengusaha yang tergabung dalam IWAPI yang hampir 80 persen anggotanya bergerak di bidang Usaha Kecil Menengah. Menurut Nita mestinya perbankan lebih fleksibel terhadap perempuan pengusaha.

Karena itu, Nita Yudi berharap untuk membantu permodalan bagi perempuan yang usahanya termasuk Usaha Kecil Menengah sebaiknya diadakan lembaga keuangan setingkat Bank namun yang peduli dengan Usaha Kecil Menengah.

"Kami mengusulkan adanya Bank UKM. Jadi pengusaha usaha kecil menengah bisa dibantu pinjaman modalnya dengan pola-pola pembiayaan antara Bank dan Koperasi. Sehingga Bank UKM tidak kaku dalam mengucurkan dananya kepada perempuan. Perempuan yang mau usaha tidak dipersulit dengan syarat-syarat memberatkan," katanya.

Menurut Nita Yudi jika perempuan bisa menggerakkan roda ekonomi, maka yang merasakan adalah keluarga. Kalau perempuan sejahtera otomatis akan berdampak pada kesejahteraan keluarga.

"Karena perempuan akan selalu memberikan kemakmuran untuk keluarga," katanya.

When word gets around about your command of news facts, others who need to know about news will start to actively seek you out.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar